Awal Penerapan Full Day School di SMPN 1 Unter Iwis, Siswa Ngantuk dan Lemas

SUMBAWA – Salah satu sekolah yang mulai menerapkan sistem 5 hari sekolah atau Full Day School adalah SMP Negeri 1 Unter Iwis. Prosesnya berjalan lancar meski di awal-awal tak sedikit siswa yang lemas dan merasa ngantuk di saat jam-jam tertentu.

Kepala SMPN 1 Unter Iwes, A. Rahman Semba, S.Pd, menegaskan awalnya siswa di sekolahnya cenderung mengantuk di waktu dzuhur dan setelahnya. Namun banyak cara guru menyiasati kondisi itu.

Terkadang siswa dibiarkan tidur sesaat, kadang pula disuruh cuci muka bahkan sesekali siswa diajak belajar di luar kelas agar tidak jenuh.

”Kalau hanya satu dua orang, kita biarkan. Walau pun tidurnya sebentar kalau enak kadang bangunnya langsung segar. Ya dari pada mengganggu yang lain,” ujarnya, Senin (25/7).

”Kalau yang tidur itu banyak kita suruh cuci muka, suruh jalan atau bisa belajar di bawah pohon di luar (kelas). Lingkungan sekolah sudah kita percantik. Jadi siswa bisa merasa betah berada di sekolah,” imbuhnya.

Man sangat pendukung program 5 hari sekolah karena salah satu tujuan utamanya demi penguatan pendidikan karakter. Di sekolah, siswa diwajibkan salat sunat duha dan sholat dzuhur berjamaah.

Selain itu siswa juga jadi lebih banyak berada di lingkungan sekolah dari pada di luar sekolah. Interaksi dengan guru juga semakin banyak sehingga memungkinkan terjalinnya hubungan emosional yang kuat antara guru dengan murid.

Baca Juga:  Jumat Salam di Kakiang, Warga Minta Kadis Dikbud NTB Bangun SMA/SMK Negeri

”Dengan durasi lama ketemu orang tua sehingga emosional dengan guru bisa terjalin. Dengan wali kelas dan guru bisa lebih terbuka. Kalau dulu murid takut ketemu guru, sekarang harus bisa jadi teman curhat,” harapnya.

Karenanya, mantan Kepala SMPN 1 Sumbawa itu menekankan kepada para guru untuk jadi lebih dari sekedar guru mata pelajaran. Tapi menjadi orang tua bagi siswa. Di samping itu guru juga harus kreatif dan inovatif.

Tanggapan Guru dan Siswa 

Sementara itu, guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMPN 1 Unter Iwes, Ainun Dwi Lestari, S.Pd, mengaku mendukung program 5 hari sekolah. Meski baru awal penerapannya, secara pribadi dia tetap enjoy. Dia bahkan merasa semakin dekat dengan siswanya.

Tak dimungkiri, di awal-awal lima hari sekolah banyak siswa yang mengantuk di saat jam belajar mengajar. Kecenderungan siswa mengantuk itu setelah dzuhur. Cara menyiasatinya dengan cuci muka hingga mengajak siswanya bercanda.

”Awal-awal sih iya ngantuk. Setelah jalan dua minggu jadi terbiasa. Tetap ada satu dua siswa yang ngantuk, kita kasi istirahat lima menit, kadang cuci muka, ajak-ajak becanda,” tuturnya.

Baca Juga:  Meriahkan Hardiknas, Belasan Ribu Siswa Ikut Senam Massal Sumbawa Gemilang   

Lima hari sekolah mendapat tanggapan beragam dari siswa sekolah tersebut. Siswa kelas IX-6, Ahmad Dani mengaku sering ngantuk di sekolah. Meski demikian dia lebih senang dengan sekolah 5 hari. Dia jadi merasa punya banyak waktu libur dari pada sekolah 6 hari. “Lima hari enak libur dua hari. Bisa bantu orang-orang tua,” aku siswa asal Boak Dalam itu.

Beda halnya dengan Aprilia. Siswi asal Dusun Unter Gedong, Desa Uma Beringin, Kecamatan Unter Iwes itu lebih menikmati enam hari sekolah. Selain alasan ngantuk, libur dua hari (Sabtu-Minggu) juga membosankan bagi dia. ”Enam hari lebih suka. Kalau di rumah, sendiri juga di rumah,” tandasnya. (PS)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *