KAT Dusun Ladan Desa Batu Rorok Dapat Bantuan Kemensos

SUMBAWA – Kementerian Sosial melalui DIPA Direktorat Pembinaan Komunitas Adat Terpencil dan Kewirausahaan Sosial tahun anggaran 2022, akan menyalurkan Rp 640 juta untuk bantuan sosial pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Dusun Ladan Desa Batu Rotok Kecamatan Batu Lanteh.

“Di Dusun Ladan Desa Batu Rotok, tepatnya di Bukit Tinggi. Di situ ada 28 kepala keluarga, itu yang sedang perberdayaan,” kata Kepala Dinas Sosial (Disos) Kabupaten Sumbawa, melalui Kabid Pemberdayaan Sosial, Candra Hastuty Nur, saat ditemui di ruang kerjanya, Jum`at (11/11).

Ia merinci, bantuan untuk community center (balai sosial) sebesar Rp 200 juta, bantuan sarana air bersih Rp 200 juta dan bantuan sarana pendidikan Rp 100 juta. Kemudian bantuan stimulant pemberdayaan KAT total Rp 140 juta. Sehingga total sebanyak Rp 640 juta.

Dijelaskannya, bantuan tersebut diberikan dalam bentuk barang, dan sudah berada di lokasi. Dan pengerjaan pekerjaan fisik dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat setempat, yang didampingi LKS (Lembaga Kesejahteraan Sosial).

Baca Juga:  Dispussip Sumbawa Gelar Sayembara Penulisan Sinopsis dan Resensi Buku 

“Posisi bantuan sudah di sana semua, sudah dilokasi. Ini dalam bentuk bahan semua, jadi (sasaran) tidak terima uang. Dan ini murni masyarakat. Ini yang beda pelaksanaan sejak dua tahun. Dulu kan tender ini, langsung kontraktor yang pengadaan sampai fisik. Sekarang ini masyarakat murni. Ada pendampingan dari LKS. LKS pembiayaannya diluar dari bantuan ini. Tugasnya mendampingi, dari pembuatan rekening, belanjanya, sampai tuntas ini,” jelas dia.

Diungkapkan, untuk proses administrasi dan penyaluran bantuan, dibentuk Pokmas dan pengurus yang beranggotakan seluruh masyarakat sasaran bantuan. “Uang ini masuk ke rekening Pokmas. Setelah masuk rekening pokmas, baru dibelanjakan. Wajib dalam bentuk barang. Baru ada serah terima ke masyarakat,” ungkap dia.

Ia menjelaskan, program tersebut bertujuan untuk memudahkan akses dan pemberdayaan ekonomi KAT. “Semua desa, kita dianggap sudah maju. Tapi dalam desa itu, ada komunitas-komunitas. Ada beberapa RT yang menjadi komunitas, karena dia terpisah letaknya terpencil. Misalnya di KAT Dusun Ladan ini, untuk sekolah saja anak-anak tempuh 7 kilomenter. Hujan tidak bisa dia sekolah. Kesehatan harus ke desa induk, sekitar 4 kilometer. Jadi biasanya masih gunakan cara-cara dan obat tradisional. Kalau mau ditangani petugas Kesehatan, seminggu sebelum melahirkan sudah harus ke faskes. Jadi kalau tidak bisa, masih pakai cara-cara tradisional,” ujarnya.

Baca Juga:  Pembangunan Dermaga Labuhan Aji Baru 40 Persen 

Disebutkan, program sebelumnya telah disalurkan di Kecamatan Orong Telu yakni Dusun Batu Bara, Dusun Bao Berang, Desa Bao Desa. “Komunitas terbanyak lokasinya di Kecamatan Batu Lanteh. Kemarin juga sudah pernah di Labuhan Aji, Orong Telu sudah, Lunyuk juga sudah,” pungkasnya. (PS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *