
SUMBAWA – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Sumbawa mengaku, ketersediaan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) masih sangat terbatas. Ketersediaan vaksin tidak sebanding dengan total populasi ternak.
“Kita hanya diberikan vaksin kurang dari 9.300 dari total 324.000 ekor populasi ternak di Sumbawa,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesshatan Hewan melalui Kabid Kesehatan Hewan, drh. Rini Handayani, Jumat (30/1).
Vaksin dinilai sangat ampuh untuk menekan kasus PMK, meski sementara waktu ini belum ditemukan di Sumbawa, sehingga pihaknya berharap adanya tambahan.
“Alhamdulillah di Sumbawa kasuk PMK nya masih nol. Kami berkomitmen untuk mempertahankan agar kasus tersebut tidak muncul,” ujarnya.
Pihaknya juga tetap melakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat termasuk juga melakukan sanitasi kandang dengan disinfektan. Termasuk juga meminta kepada para peternak untuk tetap memantau kondisi ternaknya.
“Vaksin kita sangat terbatas, sehingga kita mengajak masyarakat untuk membeli vaksin secara mandiri nanti petugas kita yang akan turun secara gratis,” ungkapnya.
Upaya menekan kasus tersebut muncul dilakukan karena akan berpengaruh pada tata niaga ternak. Apalagi potensi ternak di Kabupaten Sumbawa jauh lebih besar untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.
“Kita memiliki tanggung jawab yang sama baik pemerintah maupun pengusaha ternak agar kasus PMK tidak muncul dengan melakukan vaksinasi terhadap ternak mereka,” ucapnya.
Upaya lainnya yang dilakukan pemerintah agar kasus tersebut tidak muncul dengan melakukan pertemuan bersama pengusaha, KUPT dan veteriner. Hal tersebut dilakukan dengan harapan jangan sampai ada ternak dari luar daerah masuk ke Sumbawa tanpa surat vaksin PMK.
“Jadi, sudah ada surat edaran Kepala Badan Karantina, agar tidak melalulintaskan ternak ke luar daerah, jika tidak ada rekomendasi dari daerah tujuan salah satunya vaksin PMK,” imbuhnya. (PS)
Tidak ada komentar