Jelang Idul Fitri, Gubernur NTB Tinjau Harga Cabai dan Minyak Goreng di Pasar Brang Biji

admin
12 Mar 2026 03:59
2 menit membaca

SUMBAWA – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, melakukan kunjungan ke Pasar Brang Biji Sumbawa, Kamis (12/3), untuk memantau langsung perkembangan harga bahan pokok di tengah meningkatnya permintaan menjelang Idul Fitri.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda Safari Ramadan Pemerintah Provinsi NTB di Kabupaten Sumbawa. Dalam kegiatan tersebut, Gubernur berdialog langsung dengan para pedagang sekaligus mengecek harga sejumlah komoditas pangan strategis.

Dari hasil pemantauan di dalam pasar, harga cabai rawit masih berada pada kisaran Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram. Menurut Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal itu, harga tersebut masih relatif tinggi, terutama karena Pasar Brang Biji bukan merupakan pasar induk yang menjadi pusat distribusi utama.

“Dari hasil pengecekan langsung di pasar, harga cabai rawit memang masih cukup tinggi. Ini juga dipengaruhi karena pasar ini bukan pasar induk sehingga distribusi pasokan tidak sebesar di pasar utama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga cabai rawit saat ini dipengaruhi mekanisme pasar, di mana pasokan yang terbatas tidak sebanding dengan tingginya permintaan masyarakat.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi NTB telah berupaya menambah pasokan cabai dengan mendatangkan lebih dari satu ton cabai dari. Namun langkah tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menekan harga di tingkat pasar.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemprov NTB kini tengah menjajaki opsi penambahan pasokan cabai dari luar daerah melalui koordinasi dengan. Data distribusi antarwilayah dari lembaga tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan daerah pemasok yang memiliki surplus produksi cabai.

Kami terus berkomunikasi dengan Badan Pangan Nasional untuk melihat daerah mana yang memiliki harga cabai lebih rendah dan memungkinkan dilakukan distribusi ke NTB sebagai bentuk intervensi pasar,” jelasnya.

Selain cabai, Gubernur juga memantau harga komoditas lain seperti minyak goreng dan beras. Untuk komoditas tersebut, pemerintah membuka ruang intervensi melalui koordinasi dengan guna menjaga stabilitas harga serta ketersediaan stok di pasar.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur juga menemukan bahwa harga minyak goreng bersubsidi “Minyak Kita” di wilayah Sumbawa masih relatif tinggi. Kondisi ini diduga terjadi karena sebagian pedagang belum terhubung langsung dengan jalur distribusi resmi sebagai distributor.

Pemantauan pasar seperti ini, lanjut Miq Iqbal, akan terus dilakukan selama Ramadan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga bahan pokok di berbagai daerah di NTB.

“Pemerintah harus hadir memastikan harga tetap terkendali dan kebutuhan masyarakat terpenuhi, apalagi menjelang hari raya ketika permintaan biasanya meningkat,” pungkasnya. (PS)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *