SUMBAWA – Wakil Bupati Sumbawa Drs. H. Mohamad Ansori, membuka secara resmi kegiatan Rembuk Stunting Kabupaten Sumbawa, di Aula Bhakti Husada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu 17 Desember 2025 ini merupakan bagian penting dalam rangka menyampaikan hasil analisis situasi serta merumuskan arah dan rencana intervensi penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa Tahun 2026.
Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Sumbawa, Junaidi, APT, dalam laporannya menyampaikan bahwa Kabupaten Sumbawa hingga saat ini masih menghadapi persoalan stunting yang cukup serius. Pada tahun 2026, terdapat 11 desa yang ditetapkan sebagai lokus stunting yang menjadi prioritas penanganan.
Berdasarkan hasil survei, angka stunting di Kabupaten Sumbawa tercatat sebesar 29 persen, mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 25,7 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya keseriusan dan komitmen seluruh pihak dalam upaya penanggulangan stunting secara menyeluruh.
Menanggapi hal tersebut, Wabup H. Ansori yang juga merupakan Ketua Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS) Kabupaten Sumbawa, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak boleh berhenti pada diskusi dan perencanaan semata, melainkan harus diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan.
“Stunting adalah persoalan serius yang menyangkut masa depan generasi Sumbawa, sehingga membutuhkan kolaborasi dan tanggung jawab bersama, jadi jangan rapat terus, tapi lakukan juga aksi nyata,” tegas Wabup.
H. Ansori menekankan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang, mulai dari aspek kesehatan, kecerdasan, produktivitas, hingga daya saing daerah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh sektor terkait. (PS)






